Kamis, 22 Desember 2011

METODE PENELITIAN SOSIAL


Pengantar Metode Penelitian Sosial

Metode penelitian sosial merupakan subjek yang sangat luas. Pembahasan mengenai subjek ini akan diawali dengan memberikan gambaran mengenai metode penelitian sosial. Kemudian, sedikit mengulang mengenai logika berpikir ilmiah menjadi baik sebagai dasar pemahaman metode-metode dalam riset sosial. Logika berpikir ilmiah diaplikasikan dalam diskusi mengenai problem sosial. Diskusi yang terakhir dalam bab ini dimaksudkan sebagai stimulan untuk memasuki pembahasan mengenai permasalahan sosial pada pertemuan berikutnya.
Dalam arti yang sederhana, penelitian adalah cara untuk melakukan penemuan jawaban atas sebuah pertanyaan (Neumann, 2000: 2). Penelitian sosial adalah salah satu tipe penelitian yang dikerjakan oleh para sosiolog, ilmuwan sosial, dll untuk mencari jawaban mengenaia dunia sosial (social world) (Neumann,, 2000: 2). Neumann mengatakan, ”Social research is a collection of methods people use systematically to produce knowledge. …It is a more structured, organized, and systematic process than the alternative” (2000: 2). Penelitian sosial pada dasarnya adalah aktivitas mencari, mengolah, dan menemukan pengetahuan dari pengamatan di lapangan yang dilakukan menurut aturan-aturan tertentu dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hal ini tentu berbeda dengan wawancara seorang wartawan dengan selebriti atau tokoh politik. Penelitian sosial mensyaratkan keteraturan, kecermatan (accurate), handal (reliable), dan sahih (valid). Syarat ini diwujudkan dengan harus adanya sebuah ‘metode’ tertentu dalam melakukan penelitian sosial. Seperti yang dikatakan Arnold M Rose (1965 dalam Suyanto (ed.), 2005: iii), “…karena fakta-fakta sosial tidak tergeletak dan sudah siap dipakai begitu saja, tinggal menunggu untuk diambil. Tetapi fakta-fakta sosial itu harus dibuka dari ‘kulit pembungkus’ kenyataan yang sepintas tampak, harus diamati dalam suatu kerangka acuan yang spesifik, harus diukur dengean tepat, dan harus diamati pula pada suatu fakta yang dapat dikaitkan dengan fakta-fakta lain yang releevan”.
Metode penelitian sosial selalu mengalami perubahan. Pada awalnya, metode penelitian dilakukan dengan pendekatan positivistik (empiris). Pendekatan ini mengasumsikan bahwa suatu gejala hanya boleh dinilai “betul” (true ), bukan “benar” (right), jika gejala itu dapat dilihat oleh mata, dapat diamati, dapat diukur (Suyanto (ed.), 2005: iv). Pandangan dunia positivistik adalah sebagai berikut: objektif (bebas nilai), fenomenalisme (semesta yang teramati), reduksionisme (semesta direduksi menjadi fakta yang dapat diamati), naturalism (semesta adalah objek mekanis). (Bungin, 2006: 10). Namun, karena karakternya ini, pendekatan positivistik membuat penelitian hanya menghasilkan fakta-fakta empiris yang otomatis mereduksi kekayaan pengalaman manusia. Bungin menyebut, prinsip bebas nilai positivistik membuat ilmuan menjadi robot-robot tak berperasaan. Beberapa kelemahan ini membuat pendekatan positivistik lama-lama dimodifikasi, bahkan ditinggalkan manakala ditemukan bahwa tidak semua gejala sosial dapat diukur dan diamati secara empiris. Demikian muncullah pendekatan penelitian yang bersifat fenomenologis. Pendekatan ini memberikan ruang kepada peneliti sosial untuk tidak sekadar mengobservasi fakta-fakta anorganik tetapi gejala-gejala yang mengandalkan intuitive insight untuk memahami objek kajian sosial.
Penelitian sosial bertujuan untuk mengungkap dan memahami realitas sosial. Dalam hal ini, peran metode penelitian sosial bukan sebagai objek atau ideologi ditentukan pada awal penelitian melainkan sebagai alat atau cara untuk melakukan penelitian. Hal ini berarti metode penelitian selalu mengikuti objek atau ide penelitian, bukan sebaliknya. Terkadang, peneliti yang memiliki kecenderungan menggunakan metode tertentu akan menentukan metode terlebih dahulu barulah mencari objek penelitiannya. Dengan mengenal hakikat metode penelitian sosial ini diharapkan dapat membantu memahami berbagai konsep hingga aplikasi penelitian sosial.  Bagian selanjutnya akan membantu mengingatkan mengenai logika berpikir ilmiah sebagai dasar melakukan penelitian sosial.
Logika Berpikir Ilmiah
Keasyikan dalam melakukan penelitian sosial dapat dirasakan ketika peneliti telah memahami logika berpikir ilmiah. Pada dasarnya, logika berpikir ilmiah merupakan seperangkat pengetahuan untuk mencapai suatu kebenaran yang sahih dan handal. Berpikir ilmiah bertolak dari pemikiran Rene Descartes dengan slogannya Cogito ergo Sum, “Saya berpikir maka saya ada”.  Dalam perkembangannya, hasil dari berpikir ilmiah atau scientific knowledge dicirikan oleh sistematika, relative, koheren, heuristic (pengertian yang terbuka), kausal, netral atau tidak emosional (Suyanto (ed.), 2005: 3).
Dalam Buku Metode Penelitian sosial (Suyanto (ed.), 2005: 4), berpikir secara ilmiah dapat dilakukan secara formal dan material. Berpikir formal adalah berpikir yang mendasarkan premis-premis dari bentuk pengertian (aspek eksternal). Kesimpulan atau putusannya disasarkan pada hubungan bentuk (formal) pada aspek eksternalnya saja, dan bukan pada aspek isinya (aspek internal. Sedangkan berpikir secara material adalah berpikir yang mendasarkan premis-premis dari bentuk pengertian (aspek internal). Kesimpulan atau keputusan diperoleh melalui hubungan antara isi pengertian pada aspek internalnya, dan bukan pada aspek eksternalnya. Dua bentuk cara berpikir ini kemudian melahirkan kebenaran formal dan kebenaran material. Keduanya dapat menjadi hasil dari sebuah penelitian sosial.
Selain memahami bentuk-bentuk pemikiran, untuk dapat memahami logika berpikir ilmiah hendaknya memahami pola umum dalam berpikir, yakni deduktif dan induktif. Proses berpikir deduktif merupakan proses berpikir dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang khusus. Sedangkan proses berpikir induktif adalah proses berpikir dengan menggunakan premis-premis khusus menuju ke premis umum. Dasar pola berpikir iduktif ini adalah observasi. Pemikiran ilmiah menggunakan kedua pola ini secara bolak balik dan terus menerus. Pola-pola dalam logika berpikir ini menentukan terjadinya sebuah pohon pengetahuan yang terdiri dari akar (realitas) hingga puncak pohon (paradigma). Berikut akan dijelaskan setiap bagian yang membentuk pohon pengetahuan ilmiah (Suyanto (ed.), 2005: 8).
  1. Realitas, yakni materi dasar, ide, fakta
  2. Gejala, yakni apa saja yang ditangkap manusia
  3. Tanda, manusia memberi tanda terhadap gejala itu
  4. Symbol, manusia memberikan makna, arti, nilai sehingga memunculkan sebuah istilah
  5. Istilah, kata untuk menggambarkan symbol itu
  6. Pengertian, pemberian makna atau arti pada istilah
  7. Pemberian nilai dan norma, pemberian arti yang lebih subjektif dan bermakna khusus
  8. Konstruk, membangun suatu pengertian yang lebih menyeluruh dan terorganisasi
  9. Konsep, pengertian yang lebih menyeluruh dengan batas-batas yang jelas
  10. Preposisi, kumpulan beberapa konsep dengan pengertian tertentu dan utuh
  11. Argumentasi, kumpulan beberapa proposisi dengan pola berpikir khusus
  12. Hipotesis, teori yang kebenarannya belum seluruhnya terbuktikan
  13. Teori, pernyataan yang telah terbuktikan
  14. Dalil, teori yang kebenarannya sangat luas dan terbukan dalam waktu yang lama
  15. Aksioma, teori yang kebenarannya tak terbantahkan lagi dan dapat dikatakan universal
  16. Paradigma, suatu konsep yang paling umum dan terdalam untuk melihat dan memahami realitas
Untuk melihat suatu model proses keilmuan, dapat meminjam pandangan klasik dari Walter Wallace:
  1. Ilmu memiliki komponen utama yaitu teori, hipotesis, data dan generalisasi
  2. Proses keilmuan bergerak dari teori ke hipotesis, ke data dan generalisasi
  3. Proses induksi akan berakhir pada keinginan untuk melakukan suatu generalisasi
  4. Proses keilmuan akan menghasilkan suatu “teori baru”
Dalam proses keilmuan di atas, formula logika ilmu adalah apa yang disebut sebagai logicohipotetico-verifikatif (Suyanto (ed.), 2005: 11-13). Pernyataan ini meringkas proses keilmuan sebagai proses pembuktian hipotesis. Tampaknya pembuatan dan pemunculan hipotesis sangat penting dalam ilmu, dan kemudian hipotesis diverifikasi/ dibuktikan dalam penelitian di lapangan. Logika ini merupakan langkah-langkah yang harus memenuhi prosedural seperti:
  1. Perumusan masalah
  2. Penyusunan kerangka berpikir
  3. Penyusunan hipotesis
  4. Pengujian hipotesis
  5. Penarikan kesimpulan
Logika keilmuan lain yang juga digunakan dalam penelitian ilmiah adalah deduct-inducto-hypotetico-verifikatif . Menurut logika berpikir ini, proses berpikir ilmiah dalam ilmu ialah melalui proses:
  1. Deduksi
  2. Induksi
  3. Penyusunan hipotesis
  4. Pembuktian hipotesis/ verifikasi
Khusus dalam logika penelitian sosial, Neumann mengajukan beberapa langkah yang harus ditempuh dalam mengerjakan riset sosial, yakni (2000: 11):
  1. Topic selection
  2. Focus research question
  3. Carry out the specific study of research project (design study)
  4. Gather data or evidence
  5. Analyze the data
  6. Interpret the data
  7. Inform others
Melakukan langkah-langkah di atas tidak lantas menjadi jaminan keabsahan dan kevalidan ilmu.  Dalam logika ilmu pun dijumpai materi tentang kesesatan berpikir (fallacia/ fallacy) yaitu suatu proses berpikir yang menghasilkan putusan akal atau kesimpulan yag pasti salah atau keliru. Beberapa sumber yang mendatangkan kesesatan itu adalah: bahasa, hal yang tidak relevan, konsep dan proporsisi, procausal non causal , definisi dan komposisi, asas petition-principii¸ asas ignorantio-elenchi. Dengan demikian, berpikir ilmiah tampak nyata memiliki sifat yang heuristik, yang bermakna terbuka, fleksibel terhadap pembaharuan, dan didasari dengan pola berpikir yang rasional, kritis, fundamental, bebas nilai.
Dengan memahami pengantar metode penelitian sosial serta logika berpikir ilmiah sebagai dasarnya disimpulkan bahwa suatu riset sosial sangat diperlukan mengingat banyaknya problem dalam berbagai aspek kehidupan. Neumann mengatakan, “Social research can be used to raise children, reduce crime, improve public health, sell product, or just understand one’s life” (2000:1). Pengenalan ini menjadi dasar untuk menapaki proses selanjutnya yakni mengenai problem dalam penelitian sosial.
http://bayusumilir.wordpress.com/2010/02/15/materi-i-metode-penelitian-sosial/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar