Kamis, 05 Januari 2012

CONTOH RANCANGAN METODE PENELITIAN SOSIAL SEDERHANA

Standar Kompetensi  : Mempraktikkan metode penelitian social
Kompetensi Dasar     : Merancang metode penelitian sosial  secara sederhana
Artikel 
A.    JUDUL
PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP POLA PERILAKU HIDUP SEHAT PADA MASYARAKAT DESA TUNGGULSARI KECAMATAN BRANGSONG KABUPATEN KENDAL

B.     LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan kondisi yang noirmal dari kehidupan manusia dan merupakan dambaan setiap individu sepanjang hidupnya. Kesehatan individu sangat tergantung dari pola perilaku individu itu sendiri dalam kesehariannya. Dengan kesehatan yang dimiliki, individu dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik sehingga meningkatkan produktivitas. Akan tetapi kesehatan individu akan terganggu dengan datangnya berbagai penyakit yang mayoritas disebabkan oleh gaya hidup dan perilaku manusia itu sendiri. Keadaan dan masalah kesehatan senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku, keturunan dan pelayanan kesehatan yang saling berkaitan dan mempengaruhi (Soekidjo Notoaatmodjo, 2003:8-11).
Penyakit menyerang manusia dapat diminimalisasikan dengan melakukan tindakan preventif dan pemeliharaan kesehatan. Salah satunya dengan pola perilaku hidup sehat. Pola perilaku hidup sehat merupakan perwujudan paradigma sehat dalam budaya hidup individu, keluarga dan masyarakat yang berpotensi sehat dan bertujuan untuk meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatan baik fisik, mental spiritual maupun sosial. Perilaku hidup sehat ini sangat penting bagi kesehatan individu, karena dapat menekan faktor resiko terkena berbagai penyakit. Dengan demikian kesehatan individu akan terjaga dan pada akhirnya tingkat kesehatan masyarakat pun meningkat.
Dalam kenyataannya, masih banyak dijumpai pola perilaku hidup masyarakat yang merugikan dan mengabaikan kesehatannya terutama di daerah pedesaan. Hal ini dikarenakan pengetahuan dan tingkat kesadaran yang dimiliki masyarakat akan pentingnya menjaga dan memelihara kesehatan masih rendah. Untuk memperoleh pengetahuan dan kesadaran yang tinggi terhadap sesuatu dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor pendidikan termasuk kesadaran perilaku hidup sehat. (Indan Entjang, 2000:119) menyatakan bahwa pendidikan terutama sekolah merupakan usaha yang paling efektif diantara usaha-usaha untuk mencapai kebiasaan hidup sehat dari masyarakat pada umumnya, karena masyarakat sekolah prosentasenya tinggi dan terorgansir. Dalam sekolah anak akan diajarkan oleh guru tentang cara berperilaku hidup sehat melalui beberapa mata pelajaran seperti ilmu pengetahuan alam dan penjaskes. Pendidik akan mentransfer berbagai pengetahuan kepada peserta didiknya tentang pentingnya berperilaku hidup sehat. Dengan pendidikan yang lebih tinggi maka individu memiliki pengetahuan dan kesadaran akan pencegahan dan pemeliharaan kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang memiliki tingkat pendidikan rendah. Hal ini disebabkan individu yang memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang lebih banyak sehingga akan mempunyai pemikiran yang lebih kritis, rasional dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap suatu perubahan termasuk pola perilaku hidup sehat.
Dari hasil pengamatan dan laporan tentang kesehatan masyarakat desa Tunggulsari kecamatan Brangsong Kendal tahun 2010 menunjukkan bahwa tingkat kesehatan masyarkat Tunggulsari tergolong rendah. Hal ini ditandai dengan sebagian warga yang menderita berbagai seperti diare, TBC, gizi buruk, demam berdarah, dan sebagainya. Penyakit itu timbul karena gaya hidup individu yang merugikan dan mengabaikan kesehatan seperti kebiasaan mandi, cuci, kakus disungai, mengabaikan kandungan gizi makanan yang dimakan dan sebagainya. (hendrawan, 1997:2) menyatakan bahwa semua penyakit yang berakar dari kemiskinan itu hanya dapat dibasmi dengan meniadakan penyebab sosialnya, yakni dengan cara mengubah perilakunya yaitu dari pola perilaku hidup tak sehat menuju pola perilaku hidup sehat. Gaya hidup tak sehat tersebut terus terjadi berulang kali karena kurangnya pengetahuan dan keterbatasan informasi yang dimiliki masyarakat akan pentingnya pola perilaku hidup sehat. Kurangnya pengetahuan dan keterbatasan yang dimiliki individu atau masyarakat Tunggulsari tidak terlepas dari tingkat pendidikannya yang rendah. Dengan demikian pendidikan memiliki peranan penting dalam sosialisasi dan pembiasaan pola perilaku hidup sehat individu maupun masyarakat.




C.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimana tingkat pendidikan masyarakat di Desa Tunggulsari Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal?
2.      Bagaimana pola perilaku hidup sehat masyarakat di Tunggulsari Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal?
3.      Bagaimana pengaruh tingkat pendidikan terhadap pola perilaku hidup sehat masyarakat di Desa Tunggulsari Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal?
D.    TUJUAN PENELITIAN
Dalam kegiatan penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah :
1.      Mengetahui tingkat pendidikan masyarakat di Desa Tunggulsari
2.      Mengetahui perilaku hidup sehat masayarakat di Desa Tunggulsari
3.      Mengetahui pengaruh tingkat pendidikan terhadap pola perilaku hidup sehat masyarakat Desa Tunggulsari.
E.     MANFAAT PENELITIAN
a.      Manfaat Teoretis
1.      Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan disiplin ilmu sosiologi dan antropologi kesehatan tentang perilaku hidup sehat.
2.      Dapat memberikan wawasan bagi pembaca mengenai perilaku hidup sehat dan sekaligus mengetahui lebih jauh pentingnya perilaku hidup sehat.
3.       
b.      Manfaat Praktis
1.      Bagi lembaga terkait, sebagai masukan untuk pengambil kebijakan pemerintah maupun pihak lain yang berkompeten dalam dunia kesehatan, terutama dalam usaha membina perilaku masyarakat untuk membiasakan pola perilaku hidup sehat.
2.      Bagi peneliti, diharapkan memperoleh wawasan dan pemahaman baru mengenai pengaruh tingkat pendidikan terhadap pola perilaku hidup sehat.
4.      Bagi masyarakat, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman dan kualitas kesehatan bagi masyarakat.
F.     BATASAN ISTILAH
a.      Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (sembiring, 2006: 97)
Yang dimaksud tingkat pendidikan dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan yang dimiliki oleh anggota keluarga masyarakat di desa Banjarsari. Dalam hal ini adalah tingakt pendidikan formal. Adapun tingkat pendidikan disini dikategorikan menjadi tiga macam yaitu :
1.      Tingkat pendidikan rendah : tidak tamat SD sampai dengan tamat SD.
2.      Tingkat pendidikan sedang : tamat SMP sampai dengan tamat SMA.
3.      Tingkat pendidikan tinggi : tamat perguruan tinggi.
4.       
b.      Pola Perilaku Hidup Sehat
Perilaku hidup sehat merupakan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan individu untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2003: 118). Perilaku ini mencakup diantaranya makan dengan menu seimbang, olahraga teratur, istirahat cukup, tidak merokok, tidak minum-minuman keras, mandi air bersih minimal 2 kali sehari, menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur, buang air besar dan kecil di jamban, cuci tangan sebelum dan sesudah makan serta setelah BAB, buang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan rumah. Pola perilaku hidup masyarakat dalam penelitian ini di  kategorikan dalam pola perilaku hidup sehat rendah, sedang, dan tinggi.
G.    KAJIAN PUSTAKA
a.      Tingkat Pendidikan
1.      Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan proses individu mengembangkan kemampuan sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya dalam masyarakat. Secara umum dan mendasar Driyarkara berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu upaya memanusiakan manusia muda. Peningkatan manusia ke taraf insani itulah yang disebut mendidik. Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda (Hadikusumo, 1996: 19). Pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tumbuh anak. Di dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa pada hakekatnya pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk memujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Sembiring, 2006: 97).
Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai pemberi informasi dan keteampilan saja, namun diperluas sehingga mencakup semua usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu, sehingga tercipta pola hidup pribadi dan sosial yang memuaskan. Pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi juga untuk kehidupan anak sekaranag yang sedang mengalami perkembangan menuju tingkat kedewasaan. Berdasarkan pengertian di atas dapat diberiakan ciri atau unsur umum pendidikan yaitu:
a.       Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai, yaitu individu-individu yang kemampuan dirinya berkembang, sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya sebagai individu, warga negara atau warga masyarakat.
b.      Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut diperlukan adanya usaha-usaha yang di sengaja dan berencana dalam memilih isi (materi), strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai.
c.       Pendidikan tersebut dapat diberikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masayarakat, pendidikan informal, formal, serta non formal.
2.      Ruang Lingkup Pendidikan
Ruang lingkup pendidikan meliputi : pendidikan informal, formal dan non formal. Hal ini seperti yang tertuang dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan terdiri dari pendidikan formal, non formal dan informal, yang saling melengkapi.
a.       Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh indovidu di ruamh dalam lingkungan keluarga. Pendidikan ini berlangsung tanpa organisasi, yakni tanpa individu tertentu yang di angkat atau ditunjuk sebagai pendidik, tanpa suatu program yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, tanpa evaluasi yang formal berbentuk ujian (Hadikusumo, 1996: 25). Namun, pendidikan informal ini sangat penting bagi pembentukan kepribadian individu tersebut. Pengaruh orang tua atau individu-individu lain yang ditemui anak dalam pergaulan sehari-hari dapat menentukan sikap dan nilai-nilai yang dijadikan pedoman hidupnya. Pendidikan semacam ini tidak mengenal batas waktu dan berlangsung sejak anak itu lahir sampai akhir hidupnya.
b.      Pendidikan Non formal
Pendidikan non formal merupakan berbagai usaha khusus yang diselenggarakan secraa terorganisir agar terutama generasi muda dan juga individu dewasa, yang tidak sepenuhnya atau sama sekali tidak berkesempatan mengikuti sekolah agar dapat memiliki pengetahuan praktis dan kemampuan dasar yang mereka perlukan sebagai warga masyarakat yang produktif (Hadikusumo, 1996: 28). Dengan demikian makna pendidikan non formal tidak kalah pentingnya bila dibandingkan dengan pendidikan formal. Pendidikan formal dan non formal merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Pendidikan formal maupun pendidikan non formal merupakan usaha integral dalam rangka pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Pendidikan non formal antara lain meliputi pendidikan masyarakat, keolahragaan, kesehatan, kepemudaan dan kebudayaan.
c.       Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah pendidikan yang terstruktur dan berjenjang serta mempunyai bentuk atau organisasi tertentu, dan aturan yang jelas dan tegas, seperti sekolah atau universitas. Adapun ciri dari pendidikan formal adalah sebagai berikut :
1.      Adanya perjenjangan
2.      Terdapat program dan jenis bahan pelajaran
3.      Terdapat cara atau metode terstruktur
4.      Adanya penerimaan murid
5.      Terdapat homogenitas peserta didik
6.      Adanya jangka waktu tertentu
7.      Kewajiban belajar
8.      Penyelenggaraan
9.      Adanya waktu belajar
10.  uniformitas
3.      Tingkatan atau Jenjang Pendidikan
Menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 pasal 14 tentang istem pemdidikan naional dijelaskan bahwa pendidikan yang termasuk dalam pendidikan formal terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
a.       Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan atau keterampilan, menumbuhkan sikap dasar yang diperlukan dalam mayarakat serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Sekarang yang dimaksud dengan pendidikan dasar yaitu pendidikan sembilan tahun (wajar 9 tahun) yang terdiri dari 6 tahun sekolah dasar, dan 3 tahun di sekolah menengah pertama.
b.      Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk melajutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau yang lebih tinggi.
c.       Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi adalah pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, specialis dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi serta diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemmampuan akademik dan profesional dalam menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. Satuan pendidikan yang diselenggarakan pendidikan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas.
4.      Fungsi pendidikan
Secara umum fungsi pendidikan di Indonesia seperti yang tertuang dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2003 Pasal 3 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bengsa, bertujuan untuyk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu7, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab (Sembiring, 2006: 102). Untuk membentuk manusia yang sehat, maka di dalam pendidikan sekolah peserta didik tidak hanya diberi pengetahuan umum tetapi juga diberi pengetahuan dan keterampilan tentang tata cara hidup sehat sehingga individu dapat membiasakan pola perilaku hidup sehat.
Menurut Broom dan Selznick mengatakan bahwa fungsi pendidikan sekolah ada lima macam yaitu (1) Transmisi kebudayaan, (b) integrasi sosial, (c) inovasi, (d) seleksi dan alokasi, (e) mengembangkan kepribadian anak. Dalam transmisi kebudayaan individu akakn mempelajari pengetahuan dasar, keterampilan dan nilai-nilai kebudayaan serta bagaimana melahirkannya dalam tingkah laku. Trnasformasi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai-nilai dan norma-norma dari guru ke peserta didik tentang cara perilaku hidup sehat terjadi di sekolah. Sekolah bertanggungjawab dalam melayani, menorganisir, dan memberikan pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai yang diperlukan masyarakat. Salah satu nilai yang diajarkan di sekolah adalah nilai yang rasional tentang hidup sehat. Dengan deimikian, individu dapat memilih perilaku mana yang baik atau tidak baik untuk kesehatan.
Tinggi rendahnya pendidikan individu mempengaruhi jenjang kelas sosial dan pola perilakunya. Seperti pernyataan yang dikemukakan oleh Parelius (1992) bahwa kelas sosial adalah salah satu faktor yang membedakan perilaku individu. Semakin rendah kelas sosial individu semakin terbatas pula gerak perilakunya dan sebaliknya. Jika status pendidikan ditingkatkan maka perilaku hidup sehat individu akan meningkat pula. Pendidikan merupakan tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaannya sebagai satu kesatuan. Kemajuan pendidikan berpengaruh dan memiliki keterkaitan terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk dalam bidang kesehatan. Semakin tinggi pendidikan individu atau masyarakat akan sangat berpengaruh terhadap kualitas hidupnya termasuk dalam menjaga kesehatannya.
Selain itu pendidikan juga akan memberikan kesadaran pada individu tentang mana yang harus dilakukan dan tidak dilakukan, mana yang boleh dan tidak boleh, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak. Dengan demikian semakin tinggi pendidikan individu maka akan memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang perilaku hidup sehat serta praktik perilaku hidup sehat bartambah baik, usaha untuk melakukan perilaku hidup sehat semakin meningkat. Masyarakat atau individu yang memiliki pengetahuan tentang perilaku hidup sehat akan melakukan dan membiasakan diri untuk selalu berperilaku hidup sehat dalam aktivitasnya sehari-hari. Melalui pendidikan maka pola pikir dapat berubah, sikap dan tingkah laku individu termasuk pola perilaku hidup kurang sehat menuju perilaku hidup sehat.
b.      Perilaku Hidup Sehat
Masyarakat yang berkualitas terdiri dari keluarga yang harmonis, yaitu keluarga yang sehat dalam arti fisik, psikologis, sosial dan spiritual yang didefinisikan oleh (WHO). Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi (Notoatmodjo, 2003:3). Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, sosial budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Perilaku kesehatan sangat berkaitan dengan upaya kesehatan individu yang meliputi penyehatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan kesehatan, serta upaya penunjang yang dibutuhkan. Perilaku kesehatan adalah segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan (Sarwono, 1993: 1).
Menurut Becker, perilaku hidup sehat merupakan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan individu untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2003: 118-119). Pola perilaku hidup sehat mencakup antara lain :
a)      Makan dengan menu seimbang (appropiate diet). Menu seimbang disini dalam arti kualitas ( mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh), dan kuantitas dalam arti jumlahnya cukup untuk kebutuhan tubuh (tidak kurang, tetapi tidak lebih). Secara kualitas di Indonesia disbut dengan empat sehat lima sempurna.
b)      Olahraga teratur, juga mencakup kualitas gerakan dan kuantitas dalam arti frekuensi dan waktu yang digunakan untuk olahraga. Olahraga teratur dilakukan seminggu 3 kali, tiap selama 15 menit sehingga berkeringat tapi masih dapat bernafas panjang.
c)      Istirahat cukup, dengan melakukan istirahat kesehatan tetap terjaga dan tubuh terasa segar. Istirahat individu dewasa dikatakan cukup bila dalam sehari melakukan tidur kurang lebih 7-8 jam.
d)     Tida merokok dan minum-minuman keras. Merokok adalah kebiasaan jelek yang mengakibatkan berbagai penyakit. Asap rokok mengandung nikotin dan tar yang dapat menyebabkan penyakit kanker, paru-paru, jantung, stroke, dan kanker pita suara. Sedangkan minuman keras dapat menyebabkan penyakit gangguan hati, kerusakan syaraf, infeksi kulit, bronkitis, TBC, dan kerusakan mental.
e)      Mandi dengan sabun, mandi dapat membunuh kuman bibit penyakit yang ada dalam tubuh. Mandi dilakukan minimal 2 kali sehari dan dengan memakai sabun.
f)       Mencuci tangan denga sabun, mendudi tangan dapat membunuh kuman dan bakteri yang dapat menurunkan kondisi kesehatan individu. Mencuci tangan dengan sabun dilakukan sebelum makan, ketika memegang makanan, dan setelah buang air kecil dan besar.
g)      Gosok gigi, gosok gigi akan membersihkan sisa-sisa makanan yang apabila tidak dibersihkan akan menimbulkan penyakit yaitu gigi berlubang dan bau mulut. Gosok gigi dilakukan minimal 2 kali sehari dengan memakai pasta gigi.
h)      Konsumsi air bersih, tersedianya air bersih yang memenuhi syarat kesehatan dan memanfaatkannya, dipeliharanya tempat penampungan air serta digunakan oleh semua warga baik untuk minum, memasak, dan mandi. Air bersih dapat diperoleh dari PAM, sumur galian dan sumber lainnya.
i)        Buang air besar di WC. Buang air besar di wc dapat mencegah penyebaran bakteri dan bibit penyakit ke dalam tubuh manusia.
j)        Buang sampah pada tempatnya. Buang sampah sembarangan dapat menyebabkan berbgai penyakit seperti diare dan lain sebagainya.
k)      Kebersihan rumah dan lingkungan. Rumah cukup cahaya dan ada fentilasi udara, ada saluran pembuangan limbah, serta jauh dari kandang ternak. Jarak kandang ternak dengan rumah sekurang-kurangnya 10 meter dan harus dibersihkan setiap hari.
Berdasarkan dari uraian di atas pola perilaku hidup sehat tercermin dari pola makan dengan menu seimbang, olahraga teratur, istirahat cukup, tidak merokok, tidak minum-minuman keras, mandi dengan sabun minimal 2 kali sehari, selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, selalu gosok gigi minimal 2 kali sehari, konsumsi air bersih, buang air kecil dan besar di WC atau jamban, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan rumah.
H.    METODE PENELITIAN
1.      Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Adapun metode penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitian survey yaitu penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data pokok (Singarimbun, 1989: 3). Sedangkan analisis data penelitian melalui uji korelasi untuk menemukan pengaruh dari variabel penelitian yaitu pengaruh tingkat pendidikan terhadap pola perilaku hidup sehat masyarakat. Desain penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ø  Variabel X yaitu Tingkat Pendidikan = Variabel Bebas
Ø  Variabel Y yaitu Perilaku Hidup Sehat = Variabel Terikat



2.      Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
a)      Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian (Arikunto, 1996: 115). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang berada di desa Banjarsari kecamatan Bobotsari kabupaten Purbalingga. Adapun jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 930 rumah tangga.
b)      Sampel
Sampel sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti bersifat representatif (Arikunto, 1996: 117). Karena populasi lebih dari 100 maka sampel bisa diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih (Arikunto, 1996: 120). Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sampel sebanyak 100 arumah tangga. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah proposional sampling yaitu teknik pengambilan subyek dari setiap strata atau wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan banyaknya subyek dalam masing-masing strata atau wilayah.
Dengan alokasi proporsi tingkat pendidikan masyarakat sebagai berikut :
No
Jenjang Pendidikan
Populasi
Sampel
1
Tidak/ belum tamat SD
96
10
2
Tamat SD
268
27
3
Tamat SMP
214
23
4
Tamat SMA
195
19
5
Tamat Perguruan Tinggi
63
7

Jumlah Total
836
86

3.      Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini yang dimaksud variabel penelitian adalah segala sesuatu yang akan menjadi obyek pengamatan peneliti. Variabel adalah konsep yang memiliki bermacam-macam nilai (Nazir, 1999:149).
Ada dua variabel dalam penelitian yaitu variabel bebas atau pengaruh dan variabel terikat atau terpengaruh. Variabel dalam penelitian ini adalah:
Ø  Variabel Bebas = Tingkat Pendidikan (X)
Ø  Variabel Terikat = perilaku Hidup Sehat (Y)
4.      Validitas dan reliabilitas
A.    Validitas
Adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan, keakuratan stabil atau konsisten dalam mengukur apa yang diukur atau instrumen (Nazir, 1999:174). Validitas yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi yaitu suatu alat pengukur ditentukan oleh sejauh mana isi alat pengukur tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai kerangka konsep (Singarimbun, 1989:128). Adapun teknik uji validitasnya dengan menggunakan teknik korelasi melalui koefisien korelasi product moment dari pearson dengan rumus :
r     =                      N – () (
                 







Keterangan :
r                 = koefisien indek korelasi product moment
X                        = jumlah skor X
Y                        = jumlah skor Y
           = jumlah kuadrat dari skor X
           = jumlah kuadrat dari skor Y
               = jumlah responden
(        = jumlah skor X kuadrat
        = jumlah skor Y kuadrat
B.     Reliabilitas
Adalah ketepatan atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat ukur (Nazir, 1999: 162). Reliabilitas yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah reliabilitas internal dengan menggunakan rumus alpa :
   =
Keterangan :
              = reliabilitas instrument
                = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
           = jumlah varians butir
              = varians total



5.      Teknik Pengumpulan Data
                                                       I.            Kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang diketahuinya (Arikunto, 1996: 139). Kuesioner ini digunakan untuk mengetahui tingkat pendidikan dan pol aperilaku hidup sehat masyarakat.
                                                    II.            Metode Observasi
Metode observasi adalah cara pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan kegiatan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian (Rachman, 1999: 7). Observasi ini digunakan untuk mengetahui kebersihan rumah dan tempat tinggal responden.
                                                 III.            Metode Dokumentasi
Adalah suatu bahan tertulis atau film yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang peneliti (Moleong, 2001: 161). Metode ini digunakan untuk memperoleh data dengan cara mengutip suatu dokumen atau catatan yang sudah ada yaitu memperoleh data monografi, demografi dan lain sebagainya.
6.      Metode Pengolahan dan Analisis Data
1)      Analisis Deskriptif Prosentase
Untuk menjawab permasalahan no 1 dan 2 dapat menggunakan analisis deskriptif prosentase. Menurut Arikunto (1993: 209), jika data berbentuk kualitatif maka skor dijumlahkan dan dibandingkan dengan skor total maka kemudian diperoleh prosentase.
Rumusnya sebagai berikut:
% =  x 100%
Keterangan :
%  = tingkat keberhasilan yang dicapai
n   = nilai yang diperoleh
N  = nilai total
(Ali, 1983: 186)
Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
a.       Memeriksa angket dan kelengkapannya
b.      Mengubah skor kualitatif menjadi skor kuantitatif
c.       Membuat tabulasi data
d.      Memasukkan dalam rumus deskriptif prosentase
e.       Membuat tabel rujukan dengan cara:
ü  Menetapkan prosentase tertinggi
ü  Menetapkan prosentase terendah
ü  Menetapkan rentang prosentase
ü  Menetapkan kelas interval prosentase
ü  Menetapkan jenjang interval prosentase rendah, sedang, dan tinggi.



2)      Analisis uji korelasi dengan product moment
Untuk menjawab permasalahan ketiga, analisis yang dilakukan adalah melakukan uji korelasi dengan menggunakan rumus product moment. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :

r     =                      N – () (
                 

Keterangan :
r                 = koefisien indek korelasi product moment
X                        = jumlah skor X
Y                        = jumlah skor Y
           = jumlah kuadrat dari skor X
           = jumlah kuadrat dari skor Y
               = jumlah responden
(        = jumlah skor X kuadrat
        = jumlah skor Y kuadrat        
I.       HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesa merupakan pertanyaan tentang adanya suatu hubungan antara variabel-variabel yang digunakan. Hipotesa dalam penelitian ini ada dua yaitu :
Hipotesa Kerja yaitu ada pengaruh antara tingkat pendidikan terhadap perilaku hidup sehat masyarakat.
Hipotesa Nol yaitu tidak ada pengaruh tingkat pendidikan terhadap pola perilaku hidup sehat masyarakat.


J.      KERANGKA BERPIKIR
Semua perilaku individu dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesadaran yang dimilikinya termasuk pola perilaku hidup sehat. Pengetahuan dan kesadaran individu dapat diperoleh melalui pendidikan. Dengan demikian, pola perilaku hidup sehat individu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan individu tersebut. Semakin tinggi pendidikan individu tersebut semakin tinggi pula pola perilaku hidup sehatnya. Hal itu disebabkan oleh individu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi tentunya akan memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang lebih banyak sehingga akan mempunyai pemikiran yang lebih kritis, rasional dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap suatu perubahan termasuk pola perilaku hidup sehat.
Cross: Pola Perilaku Hidup SehatRounded Rectangle: Tingkat PendidikanGambaran secara singkat kerangka berpikir dalam penelitian ini sebagai berikut :


Notched Right Arrow: Pengaruh
 














DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, Sue, 1995. Pengaruh Rokok Terhadap Kesehatan. Terjemahan Meitasari Tjandrasa. Yogyakarta: Arcan.
Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Ahmadi, Abu. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hadikusumo, Kunaryo. 1996. Pengantar Pendidikan. Semarang: IKIP Press
Joyomartono, Mulyono DJ. 2004. Pengantar Antropologi Kesehatan. Semarang: UNNES Press.
Nadesul, Hendrawan. 1997. Pola dan Gaya Hidup Sehat. Jakarta: Puspa Swara.
Nasution, S. 1999. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.
                                         . 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sembiring, Sentosa. 2006. Himpunan Perundang-Undangan Tentang Guru dan Dosen. Bandung: Nuansa Aulia.
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (Ed). 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.
Slamet, Soemirat. 2002. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: UGM Press.
Sukarni, Maryati. 1994. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Yogyakarta: Kanisius.





KUESIONER

JUDUL                            : “PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP POLA PERILAKU HIDUP SEHAT PADA MASYARAKAT DESA TUNGGULSARI KECAMATAN BRANGSONG KABUPATEN KENDAL”

PENDAHULUAN
Dalam rangka pengumpulan data penelitian skripsi yang akan saya lakukan, saya mahasiswa jurusan sosiologi dan antropologi semester IV Universitas Negeri Semarang bermaksud untuk mendapatkan data mengenai pengaruh tingkat pendidikan terhadap pola perilaku hidup sehat pada masyarakat Desa Tunggulsari Kecamatan Brangsong Kabupaten Kendal. Oleh karena itu saya akan mengajukan beberapa pertanyaan. Daftar pertanyaan yang saya ajukan tertera dalam instrumen angket ini. Dalam penggunaan angket ini, peneliti menggunakan kode etik penelitian yaitu asas kerahasiaan. Untuk itu saya mengaharapkan jawaban dari bapak, ibu, saudari, saudari yang sejujurnya sesuai pengetahuan dan pengalaman anda. Jawaban dari anda saya jamin tidak akan mempengaruhi status, jabatan, karier dan posisi anda dalam masyarakat.
Atas partisipasinya dalam penelitian ini saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.





Biodata pengisi
Nama                            :
Umur                            :
Jenis Kelamin               :
Jenjang Pendidikan      :
Pertanyaan
Mohon dijawab sesuai dengan pengamatan dan pengalaman anda dengan memberikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban yang tersedia!
1.      Jenjang pendidikan terakhir anda ?
A.    Tamat SD         C. Tamat SMP                       
B. Tamat SMA       D. Tamat Perguruan tinggi
2.      Jika anda sakit, obat apa yang anda minum ?
A.    Tidak minum obat        C. Minum obat dengan resep dokter
B.     Minum obat tradisonal
3.      Penyakit yang pernah anda derita?
A.    Diare                 C. TBC                        E. Lainya (.......................................)
B.     Penyakit kulit   D. Demam berdarah
4.      Apakah rumah anda terdapat MCK ?
A.    Ya                     B. Tidak
5.      Dimanakah anda mandi ?
A.    Sungai                           C. Kamar mandi sendiri         
B.     Kamar mandi umum     D. sumur
6.      Dimanakah anda mencuci pakaian?
A.    Sumur               B. Kamar mandi          C. Sungai
7.      Apakah anda setiap hari makan makanan dengan menu yang seimbang ?
A.    Ya                     B. Tidak
8.      Apakah anda olahraga dengan teratur ?
A.    Ya                     B. Tidak
9.      Apakah anda setiap hari istirahat dengan cukup (tidur 7-8 jam sehari)?
A.    Ya                     B tidak
10.  Apakah anda seorang perokok ?
A.    Ya                     B. Tidak
11.  Apakah anda seorang peminum (minum-minuman keras) ?
A.    Ya                     B. Tidak
12.  Berapa kali anda mandi dalam sehari ?
A.    1 kali                 B. 2 kali           C. 3 kali           D. Lebih dari 3 kali  (....kali)
13.  Apakah anda mencuci tangan dengan sabun sebelum dan setelah makan, sesudah buang aire kecil dan besar ?
A.    Ya                     B. Tidak
14.  Berapa kali anda menggosok gigi setiap hari ?
A.    1 kali                 B. 2 kali           C. 3 kali
15.  Air yang anda konsumsi setiap hari ?
A.    Air sungai         B. Air sumur   C. Air PAM    D.(.................................)
16.  Dimanakah anda membuang sampah ?
A.    Sungai               B. Tempat sampah      C. Selokan       D. (................................)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar