Jumat, 16 Desember 2011

“Multikultural Dalam Dunia Pendidikan (Pendidikan Multikultural)”

RINGKASAN
Secara sederhana pendidikan multikultural dapat didefenisikan sebagai "pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan". Pendidikan multikultural (multicultural education) merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non Eropa (Hilliard, 1991-1992). Sedangkan secara luas pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnic, ras, budaya, strata sosial dan agama.
Kata kunci      :  Multikultural, pendidikan

LATAR BELAKANG
Multikulturalisme adalah sebuah kerangka dimana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi.
Multikulturalisme dapat dikatakan salah satu ciri khas masyarakat modern dan kelompok sosial yang paling penting, dan mungkin merupakan pengemudi utama kemajuan dalam ilmu pengetahuan, masyarakat dan perkembangan ekonomi.
Dalam sebuah masyarakat otoriter atau oligarkis, ada konsentrasi kekuasaan politik dan keputusan dibuat oleh hanya sedikit anggota. Sebaliknya, dalam masyarakat pluralistis, kekuasaan dan penentuan keputusan (dan kemilikan kekuasaan) lebih tersebar.
Dipercayai bahwa hal ini menghasilkan partisipasi yang lebih tersebar luas dan menghasilkan partisipasi yang lebih luas dan komitmen dari anggota masyarakat, dan oleh karena itu hasil yang lebih baik. Contoh kelompok-kelompok dan situasi-situasi di mana Multikulturalisme adalah penting ialah: perusahaan, badan-badan politik dan ekonomi, perhimpunan ilmiah.
Pada masyarakat Multikultural memiliki tipe/pola tingkah-laku yang khas. Sesuatu yang dianggap    sangat   tidak normal oleh budaya  tertentu tetapi  dianggap normal atau biasa-biasa  saja oleh budaya lain. Perbedaan semacam inilah yang sering menyebabkan kontradiksi atau konflik, ketidak-sepahaman dan disinteraksi dalam masyarakat plural. Seperti yang dikatakan  O’Sullivan  (1994.67), bahwa setiap  kebudayaan  memiliki bentuk   yang khas, tingkah  laku   yang  unik,  yang  memiliki latar budaya yang berbeda. Melalui  pendekatan proses  diharapkan dapat  membuat  kelompok etnik  yang berbeda   latar  belakang sosial  dan    budaya    akan   berusaha mengembangkan pemahaman dan rasa hormat terhadap keragaman budaya, memperkecil etnosentrisme, memperkecil prasangka buruk kepada etnik lain dan meningkatkan pemahaman terhadap  perbedaan sosial, ekonomi, etnik dan psikologi serta memperkecil kemungkinan terjadinya konflik antar etnik (Suzuki, 1979; Sizemore,1979; Pachero,1977; Gay,1977). Dalam literatur penelitian internasional telah banyak disimpulkan tentang kekuatan  pendidikan multikultural dapat  menekan konflik etnik pada sebuah masyarakat yang berbudaya plural (cultural  pluralism). Hawkins (1972) menunjukkan bahwa pendidikan multikultural sangat efektif  untuk  meningkatkan kesadaran terhadap  persamaan derajat (equality),sikap demokratis, toleransi dan  rasionalitas antar budaya. Hawkins (1972) juga    menyimpulkan dengan rancangan kurikulum pendidikan  multikultural yang baik, maka kekuatan purbasangka dan diskriminasi etnik dapat ditekan secara maksimal.

GAGASAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Sedangkan multikultural adalah suatu keberagaman suku, agama, ras, bahasa, budaya dan sebagainya yang terdapat dalam suatu wilayah tertentu. Kondisi masyarakat yang multikultural, baik dari segi budaya, ras, agama, dan status sosial memungkinkan terjadinya benturan antarbudaya, antarras, etnik, agama, dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Untuk itu, dipandang perlu memberikan porsi pendidikan multikultural dalam sistem pendidikan agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan suku, ras, agama, dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakat. Hal ini dapat diimplementasikan baik pada substansi maupun model pembelajaran yang mengakui dan menghormati keanekaragaman budaya.
Gagasan   pendidikan multikultural muncul  didorong  oleh  kurang  berhasilnya  pendidikan  interkultural  dalam mengatasi konflik antar golongan dan masyarakat. Pendidikan interkultural dianggap   hanya  memunculkan  sikap  tidak  peduli  pada  nilai-nilai  budaya minoritas,  bahkan   melestarikan   prasangka-prasangka   sosial dan  kultural.Pendidikan multikultural, sebagai gantinya, diharapkan  dapat menumbuhkan  sikap   peduli dan mau  mengerti  atau  politik pengakuan terhadap kebudayaan kelompok minoritas.  Karena itu peran Departemen Pendidikan Nasional RI dalam mengadopsi  pendidikan multikulturalisme, untuk dipikirkan  bagaimana diberlakukan  dalam  pendidikan   sekolah dari  tingkat SD  sampai  dengan tingkat   SLTA. Apakah  multikulturalisme sebaiknya masuk dalam kurikulum  sekolah dan  pelaksanaannya  dapat  dilakukan  sebagai  pelajaran ekstra-kulikuler  atau  menjadi   bagian  kurikulum sebagai  mata  pelajaran terpisah,  berdiri   sendiri (separated)   atau   sebaliknya   terpadu  atau terintegrasi (integrated) (Suparlan 2002, Azra 2002). Pada dasarnya  semua  institusi  sosial  baik  itu  orang  tua,  sekolah, organisasi   keagamaan dan sebagainya, bertanggungjawab  menjadikan anak-anak  memahami  multikultural,  akan  tetapi  sekolah  memegang peran kunci. Oleh  karena  itu   hanya  melalui  program  pendidikan multikultural yang   dikonsepsi   dengan    baik dan    dilaksanakan  secara   kontinu   dapat tercipta sebuah   masyarakat   yang  paham    terhadap  keberagaman  budaya, yang begitu dibutuhkan   bagi  masa kini  dan  masa  depan bangsa Indonesia dan dunia. Sekolah   memiliki   potensi   untuk  melakukannya, sekalipun sekolah tidak bisa menjamin teratasinya ketegangan dan konflik.
 Mengatasi ketegangan    dan konflik  bukanlah    urusan  sekolah.  Pendidikan mengurus harapan,   cita-cita, masa   depan   sebuah  masyarakat    dan  individu    yang terlibat didalamnya. Pendidikan multikultural sebagai wacana baru di Indonesia dapat diimplementasikan tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga dapat dimplementasikan melalui pendidikan nonformal. Dalam pendidikan formal, pendidikan multikultural tidak harus dirancang khusus sebagai muatan substansi tersendiri, tetapi dapat diintegrasikan dalam kurikulum yang sudah ada melalui bahan ajar atau model pembelajaran. Di perguruan tinggi misalnya, dari segi substansi, pendidikan multikultural dapat diintegrasikan misalnya melalui mata kuliah umum, seperti kewarganegaraan, agama, dan bahasa. Pada tingkat SD, SLTP, atau sekolah menengah, pendidikan multikultural dapat diintegrasikan dalam bahan ajar seperti agama,sosiologi, dan antropologi, dan dapat melalui model pembelajaran, seperti diskusi kelompok atau kegiatan ekstrakurikuler. Dalam pendidikan nonformal, pendidikan multikultural dapat disosialisasikan melalui pelatihan-pelatihan dengan model pembelajaran yang responsif multikultural dengan mengedepankan penghormatan terhadap perbedaan, baik ras, suku, maupun agama antaranggota masyarakat.

SIMPULAN
Pendidikan multikultural adalah "pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan". Pendidikan multikultural (multicultural education) merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non Eropa (Hilliard, 1991-1992). Sedangkan secara luas pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnic, ras, budaya, strata sosial dan agama. Dunia pendidikan tidak boleh terasing dari perbincangan realitas multikultural tersebut. Bila tidak disadari, jangan-jangan dunia pendidikan turut mempunyai andil dalam menciptakan ketegangan-ketegangan sosial. Oleh karena itu, di tengah gegap gempita lagu nyaring "tentang kurikulum berbasis kompetensi", harus menyelinap dalam rasionalitas kita bahwa pendidikan bukan hanya sekedar mengajarkan "ini" dan "itu", tetapi juga mendidik anak kita menjadi manusia berkebudayaan dan berperadaban.Dengan demikian, tidak saatnya lagi pendidikan mengabaikan realitas kebudayaan yang beragam tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Stavenhagen, Rudolfo.1996."Education for a Multikultural world". in Jasque Delors (et all), Learning: the treasure within, Paris, UNESCO,

DEPAG RI dan IRD
. 2003 .Kurikulum Berbasis Multikulturalism. Majalah: Inovasi Kurikulum Edisi IV
IKA UIN Syarif Hidayatullah.2003. Mengagas Pendidikan Multikultural.Majalah:Tsaqafah:Vol. I No:2
Tilaar, H. A. R.2002.Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta:Grasindo.
Banks, J. 1993. Multicultural Education: Historical Development, Dimension, and Practice. Review of Research in Education.



7 komentar:

  1. Artikel yang anda buat sudah baik tetapi alngkah baiknya jika anda menambahkan pendidikan multikultural seperti apa si??yang didambakan atau ingin dimunculkan didunia pendidikan??

    BalasHapus
  2. Pendidikan multikultural itu mencakup seluruh peserta didik tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti bahasa, ras, budaya, strata sosial dan agama. Sangat penting pendidikan multikultural sehingga nantinya dapat mengurangi potensi-potensi knflik.

    BalasHapus
  3. Artikel ini menarik karena membahas pendidikan multikultural dengan tidak memandang suatu perbedaan sebagai pemicu konflik..

    BalasHapus
  4. sangat menarik.... kajian kita banget gitu sebagai mahasisiwa sosiologi antroplogi............ mantab!!!

    BalasHapus
  5. jadi... kalau nanti kita udah jadi guru. jangan suka memilah2 murid y. semua dapat kesempatan dan hak yang sama untuk mencapai pendidikan.
    hee..

    BalasHapus
  6. Pendidikan multikultural...
    sangat sesuai dengan bangsa kita yang memang multikultural, yang terdiri atas banyak suku, ras, dan agama.
    tetap lestarikan!

    BalasHapus